Pendidikan

19 Kampus Indonesia Masuk 100 Besar Dunia dalam Pemeringkatan Kampus Berkelanjutan 2026

  • Arfi
  • Selasa, 29 September 2026
  • menit membaca
  • 17x baca
19 Kampus Indonesia Masuk 100 Besar Dunia dalam Pemeringkatan Kampus Berkelanjutan 2026

JAKARTA RADAR GARUDA, (29/09).  Komitmen perguruan tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan semakin menjadi bagian penting dalam perkembangan pendidikan tinggi dunia. Tahun 2026, sebanyak 19 perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk dalam 100 besar dunia berdasarkan pemeringkatan UI GreenMetric Sustainable University Rankings.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa isu keberlanjutan di lingkungan kampus tidak lagi sebatas penghijauan atau penanaman pohon. Pengelolaan energi, limbah, air, transportasi, pendidikan, penelitian hingga tata kelola kampus turut menjadi bagian dari penilaian.

Dalam pemeringkatan dunia 2026, Wageningen University dari Belanda menempati posisi pertama dengan skor 9.650.

Posisi kedua ditempati Umwelt-Campus Birkenfeld, Jerman, dengan skor 9.612,5. Sementara Universidade de São Paulo (USP) dari Brasil berada di peringkat ketiga dengan skor 9.600.

Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah perguruan tinggi yang cukup signifikan dalam jajaran teratas. Sebanyak 19 kampus nasional tercatat masuk Top 100 dunia.

UI Memimpin Kampus Indonesia

Di tingkat nasional, Universitas Indonesia (UI) berada di posisi pertama dengan skor 9.387,5.

Universitas Diponegoro (Undip) menempati posisi kedua dengan skor 9.337,5, sedangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) berada di peringkat ketiga dengan skor 9.300.

Selisih skor di antara tiga perguruan tinggi tersebut relatif tipis. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan dalam penerapan prinsip keberlanjutan di perguruan tinggi Indonesia semakin berkembang.

Pemeringkatan UI GreenMetric sendiri tidak hanya melihat kondisi fisik kampus. Penilaian dilakukan menggunakan data dan indikator yang mengukur berbagai aspek keberlanjutan.

Dari Penghijauan hingga Energi Bersih

Konsep green campus kini berkembang menjadi pendekatan yang mencakup hampir seluruh aktivitas operasional perguruan tinggi.

Pengurangan emisi karbon menjadi salah satu perhatian utama. Kampus didorong untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi, mengembangkan sumber energi bersih, serta melakukan konservasi untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan operasional.

Pengelolaan limbah juga menjadi bagian penting. Perguruan tinggi dituntut memiliki sistem pengelolaan limbah yang lebih baik, termasuk upaya mengurangi timbulan sampah dan mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular.

Aspek air turut diperhitungkan melalui kebijakan konservasi dan efisiensi penggunaan air di lingkungan kampus.

Sementara di sektor transportasi, kampus dapat menerapkan berbagai kebijakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan bermotor pribadi. Penyediaan jalur pejalan kaki, jalur sepeda serta kendaraan listrik menjadi bagian dari transformasi menuju mobilitas yang lebih ramah lingkungan.

Keberlanjutan Masuk ke Dunia Akademik

Transformasi kampus berkelanjutan juga tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur.

Konsep keberlanjutan mulai diintegrasikan ke dalam pendidikan dan penelitian. Materi mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), lingkungan serta pengembangan green jobs menjadi bagian dari upaya menyiapkan lulusan menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna fasilitas kampus yang lebih ramah lingkungan, tetapi juga diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan ekonomi berkelanjutan.

Aspek tata kelola dan digitalisasi juga menjadi perhatian. Sistem administrasi dan pengelolaan kampus diarahkan agar semakin transparan, terintegrasi dan memanfaatkan teknologi digital secara efektif.

Berawal dari Gagasan UI

UI GreenMetric World University Rankings digagas oleh Universitas Indonesia pada 2010.

Gagasan tersebut berawal dari Konferensi Internasional Pemeringkatan Perguruan Tinggi Dunia yang diselenggarakan UI di Depok pada 16 April 2009.

Dalam konferensi tersebut muncul perhatian terhadap belum adanya sistem pemeringkatan perguruan tinggi global yang secara khusus memberikan pengakuan terhadap upaya kampus dalam mengurangi dampak lingkungan dan jejak karbon.

Setahun kemudian, UI GreenMetric diluncurkan dan pada edisi pertamanya diikuti 105 universitas dari 35 negara.

Dalam perkembangannya, jumlah peserta meningkat secara signifikan. Pada 2026, pemeringkatan tersebut telah mencakup 2.016 institusi pendidikan tinggi dari 110 negara.

Tujuh Pilar Penilaian

Penilaian UI GreenMetric dilakukan melalui data objektif yang dituangkan dalam 60 indikator.

Indikator tersebut dikelompokkan ke dalam tujuh bidang utama, yaitu:

  1. Penataan dan Infrastruktur

  2. Energi dan Perubahan Iklim

  3. Pengelolaan Limbah

  4. Pengelolaan Air

  5. Kebijakan Transportasi

  6. Pendidikan dan Penelitian

  7. Tata Kelola dan Digitalisasi

Ketujuh aspek tersebut menggambarkan bahwa konsep universitas berkelanjutan mencakup lebih dari sekadar kondisi lingkungan fisik.

Kampus yang ingin memperkuat posisi dalam ekosistem pendidikan berkelanjutan perlu melakukan perubahan pada infrastruktur, kebijakan, aktivitas akademik, mobilitas, penggunaan sumber daya hingga sistem pengelolaan institusi.

Masuknya 19 perguruan tinggi Indonesia dalam 100 besar dunia pada 2026 menjadi gambaran mengenai semakin luasnya penerapan agenda keberlanjutan di pendidikan tinggi nasional.

Pada saat yang sama, perkembangan UI GreenMetric menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan sebuah kampus semakin luas. Prestasi akademik dan riset tetap menjadi bagian penting pendidikan tinggi, sementara pengelolaan lingkungan dan tata kelola berkelanjutan menjadi dimensi lain yang semakin mendapat perhatian di tingkat global.(arfi)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar