JAKARTA RADAR GARUDA, (28/09). Pemerintah terus mendorong pengolahan komoditas pangan lokal menjadi produk bernilai tambah sebagai salah satu upaya memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Strategi tersebut dilakukan melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan kapasitas produksi, serta perluasan akses pasar.
Selama ini, sejumlah komoditas seperti singkong dan sorgum masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau segar. Melalui proses hilirisasi, bahan pangan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan dengan masa simpan lebih lama dan nilai jual yang lebih tinggi.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjadi salah satu lembaga yang mendorong pengembangan pangan lokal melalui dukungan teknologi kepada pelaku UMKM. Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah sorgum.
Teknologi freeze dryer menjadi salah satu pilihan dalam pengolahan sorgum. Teknologi tersebut memungkinkan berbagai produk seperti nasi, bubur, dan sari sorgum diproses agar memiliki masa simpan lebih panjang dengan tetap mempertahankan kualitas dan kandungan gizinya.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, mengatakan pengembangan pangan lokal harus dilakukan bersama dengan inovasi dan peningkatan kemampuan pelaku usaha.
Menurut Andriko, penguatan rantai produksi pangan lokal perlu melibatkan seluruh pihak, mulai dari petani hingga UMKM. Petani menyediakan bahan baku, kemudian hasil produksinya diserap oleh pelaku usaha untuk diolah menjadi produk siap konsumsi.
Teknologi bantu tingkatkan produksi
Dukungan terhadap UMKM pangan juga dilakukan melalui penyediaan peralatan produksi. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas sekaligus menjaga kualitas produk.
Sejumlah peralatan yang diberikan antara lain mesin parut, drum pencuci, alat peniris atau pengering dengan konveyor, ayakan, heat exchanger, dan bak penampung.
Salah satu penerapan program tersebut dilakukan di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pelaku usaha pengolahan singkong di wilayah tersebut mulai menggunakan peralatan mesin untuk menggantikan sebagian proses produksi yang sebelumnya dilakukan secara manual.
Perubahan tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan kebersihan dan konsistensi hasil produksi.
Salah satu pelaku UMKM pengolahan singkong, Andi, mengatakan penggunaan peralatan baru membuat proses produksi menjadi lebih praktis.
Ia juga melihat peluang pengembangan produk singkong tidak hanya berhenti pada satu jenis produk. Singkong dapat diolah menjadi tepung tapioka maupun produk turunan lainnya, termasuk tepung mocaf.
Peluang memperluas pasar
Pengembangan produk olahan pangan lokal juga dinilai dapat membuka peluang pasar yang lebih luas. Produk yang sebelumnya hanya dijual sebagai bahan mentah dapat dikembangkan menjadi makanan siap konsumsi atau bahan baku industri.
Pemerintah mendorong agar proses tersebut tidak hanya meningkatkan nilai jual komoditas, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi baru di daerah penghasil.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya juga menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Kementerian Perindustrian menunjukkan sektor industri pengolahan tumbuh 5,30 persen pada 2025. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,11 persen.
Pada tahun yang sama, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi sekitar 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut mencakup keseluruhan industri pengolahan, bukan hanya industri pengolahan nonmigas.
Sementara itu, industri makanan dan minuman memiliki porsi besar dalam kelompok industri kecil dan menengah (IKM). Kementerian Perindustrian mencatat sektor tersebut mencakup sekitar 39,7 persen dari total unit usaha IKM dan menyerap sekitar 36,5 persen tenaga kerja IKM pada 2025.
Tak hanya mengandalkan mesin
Pengembangan UMKM pangan tidak cukup hanya dengan memberikan peralatan produksi. Pelaku usaha juga membutuhkan dukungan dalam aspek lain, seperti keamanan pangan, pengemasan, standardisasi produk, pembiayaan, pemasaran, dan pengembangan jaringan distribusi.
Dengan dukungan tersebut, proses hilirisasi dapat membentuk rantai nilai yang lebih panjang. Petani memperoleh pasar untuk hasil panen, sementara UMKM mendapatkan bahan baku untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Pada akhirnya, pengolahan pangan lokal dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi UMKM sekaligus meningkatkan pemanfaatan komoditas daerah.
Jika dilakukan secara berkelanjutan, pengembangan tersebut berpotensi menciptakan lebih banyak kegiatan ekonomi di daerah, memperluas pasar produk lokal, dan meningkatkan nilai tambah komoditas yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk mentah.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar