SURABAYA (27/9) - Jika dunia punya Segitiga Bermuda di Samudera Atlantik, Indonesia punya Masalembo. Perairan yang terletak di pertemuan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores ini dijuluki sebagai "Segitiga Bermuda Indonesia" karena catatan kelamnya yang menelan ratusan kapal dan pesawat.
Secara administratif, Masalembo masuk wilayah Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Terdiri dari tiga pulau utama: Pulau Masalembu, Masakambing, dan Karamian. Namun perairan di sekitarnya-lah yang jadi mimpi buruk para pelaut.
Julukan itu tidak muncul tanpa sebab. Rentetan tragedi besar terjadi di sini:
1. KM Tampomas II (1981): Kapal penumpang legendaris yang terbakar dan tenggelam di Masalembo, menewaskan lebih dari 400 orang.
2. MV Senopati Nusantara (2006): Tenggelam akibat cuaca buruk, ratusan korban jiwa.
3. Adam Air 574 (2007): Pesawat dengan 102 penumpang jatuh di perairan Masalembo dan hilang tanpa jejak selama berhari-hari.
4. KM Virgo Transport 8 (2026): Kasus terbaru, kapal dengan 240 penumpang mengalami kecelakaan, 6 orang meninggal.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Benarkah ada mistis?
Pakar klimatologi dan kebencanaan dari IABI, Daryono, menegaskan istilah Segitiga Bermuda itu mitos. Secara ilmiah, Masalembo adalah titik pertemuan dua arus laut raksasa.
Pertama, ada Arus Monsunal dari Laut Jawa yang datang dari barat. Kedua, ada Arus Arlindo (Arus Lintas Indonesia) dan arus termoklin dingin dari Selat Makassar di utara. Saat dua arus kuat ini bertabrakan, tercipta fenomena "cross-sea" atau gelombang silang, pusaran air, dan perubahan tekanan udara mendadak.
Ditambah lagi, kawasan ini sering jadi tempat lahirnya awan Cumulonimbus raksasa yang berbahaya bagi penerbangan. Kecepatan arus di sana bisa mencapai 15 juta meter kubik per detik.
Jadi, bukan karena dijaga Ratu Malaka atau medan magnet mistis, tapi karena faktor alam yang sangat kompleks dan dinamis. BMKG dan BPPTKG pun selalu mengimbau pelaut dan pilot untuk ekstra waspada saat melintas Masalembo, terutama di musim peralihan Desember-Januari dan Juli-Agustus. (Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar