Daerah

Kawah Baru Disertai Kobaran Api Muncul di Gunung Papandayan, Pendaki Dilarang Mendekat

  • Bella
  • Sabtu, 26 September 2026
  • menit membaca
  • 28x baca
Kawah Baru Disertai Kobaran Api Muncul di Gunung Papandayan, Pendaki Dilarang Mendekat

GARUT (26/9) - Fenomena langka terjadi di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawah baru disertai kobaran api berwarna biru atau _Blue Fire_ muncul di area Kawah Manuk sejak Selasa (23/9/2026) malam.

Fenomena tersebut pertama kali terdeteksi pada 23 September, berupa pendaran nyala biru keunguan di beberapa titik dengan sebaran yang cukup luas. Sehari kemudian, pada Rabu (24/9/2026), kobaran api berubah menjadi lebih terkonsentrasi dengan warna biru keputihan.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, membenarkan kejadian tersebut.

"Nyala tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena blue fire yang berkaitan dengan pembakaran belerang di area solfatara," kata Rita, Jumat (25/9/2026).

Menurut PVMBG, munculnya kobaran api ini berkaitan dengan penyempitan bukaan Kawah Manuk yang teramati sejak 2025. Penyempitan tersebut disertai berkurangnya asap di permukaan, sehingga jalur pelepasan gas panas diduga bergeser ke rekahan dinding kawah lain yang mengandung belerang.

Meski terlihat menyeramkan dan indah sekaligus, fenomena ini berbahaya. PVMBG mencatat potensi bahaya berupa semburan gas dan paparan gas vulkanik beracun di atas ambang batas.

Badan Geologi saat ini telah menerjunkan Tim Tanggap Darurat ke lapangan untuk menganalisis potensi bahaya.

Sementara itu, Balai Besar KSDA Jawa Barat dan pengelola TWA Gunung Papandayan memutuskan untuk membatasi akses wisatawan hingga Pos 4. Seluruh aktivitas outdoor seperti camping dan pendakian ke puncak dilarang mendekati area kawah.

"Masyarakat dan pengunjung diminta tidak beraktivitas atau menginap dalam radius 500 meter dari bukaan kawah aktif," tegas Rita.

Status Gunung Papandayan sendiri masih Level I (Normal), namun warga diminta tetap waspada dan hanya mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi. (Bll) 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar