Kesehatan

BMKG Catat Suhu 36,8 Derajat, Kemarau RI Makin Panjang

  • Arfi
  • Sabtu, 26 September 2026
  • menit membaca
  • 25x baca
BMKG Catat Suhu 36,8 Derajat, Kemarau RI Makin Panjang

 

JAKARTA RADARGARUDA , (26/09). Gelombang panas dan kemarau panjang masih mewarnai sejumlah wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum harian mencapai 36,8 derajat Celsius pada periode 24-25 September 2026.

Catatan tersebut merupakan hasil pemantauan BMKG sejak 24 September pukul 07.00 WIB hingga 25 September pukul 07.00 WIB. Suhu tertinggi masing-masing 36,8 derajat Celsius terjadi di tiga lokasi, yakni Stasiun Meteorologi H As Hananjoeddin, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, dan Stasiun Meteorologi Sanggu.

Selain itu, suhu tinggi juga tercatat di sejumlah wilayah lainnya. Stasiun Meteorologi Ahmad Yani mencatat 36,6 derajat Celsius, sedangkan Stasiun Meteorologi Beringin dan Adi Soemarmo TNI AU masing-masing 36,2 derajat Celsius.

Suhu 36,2 derajat Celsius juga tercatat di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas. Selanjutnya, Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri mencatat 36,1 derajat Celsius.

Dua lokasi lainnya, yakni Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera dan Stasiun Klimatologi Bangka Belitung, masing-masing mencatat suhu maksimum 36,0 derajat Celsius.

El Nino dan IOD Perpanjang Kekeringan

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan kondisi kekeringan saat ini dipengaruhi oleh El Nino kuat yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Menurut Faisal, kombinasi kedua fenomena tersebut dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya, kedatangan musim hujan diperkirakan mengalami keterlambatan dan durasinya menjadi lebih pendek.

Berdasarkan pemantauan BMKG hingga akhir Agustus 2026, anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 mencapai +2,83 derajat Celsius. Sementara indeks ENSO tercatat +2,63.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya kekeringan di berbagai daerah.

BMKG mencatat sekitar 61,9 persen wilayah daratan Indonesia terdampak kekeringan ekstrem. Salah satu wilayah dengan periode tanpa hujan terpanjang adalah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang mencapai 131 hari.

Musim Hujan Tidak Datang Bersamaan

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan awal musim hujan pada tahun ini diperkirakan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Indonesia.

Sebagian besar wilayah diprediksi baru memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026.

BMKG memperkirakan sebanyak 525 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami awal musim hujan yang mundur dibandingkan kondisi normal.

Puncak musim hujan kemudian diprediksi berlangsung secara bertahap mulai Desember 2026 hingga Februari 2027.

Waspadai Dampak Kesehatan

Kemarau yang berlangsung panjang tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.

Kondisi kering dapat meningkatkan konsentrasi debu dan menurunkan kualitas udara. Kekeringan juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.

Direktur Perubahan Iklim BMKG A Fachri Radjab mengatakan keterbatasan air bersih selama musim kemarau dapat meningkatkan risiko penyakit pencernaan, termasuk diare.

Sementara itu, ketika hujan mulai turun, genangan air perlu menjadi perhatian karena dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa penyakit.

"Fase setelah kemarau panjang juga menyimpan bom waktu bagi penyakit tular vektor," kata Fachri.

BMKG meminta pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan, termasuk kemungkinan memburuknya kualitas udara.

Masyarakat juga diimbau menjaga asupan cairan ketika suhu udara tinggi, memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Saat hujan mulai datang, pemberantasan sarang nyamuk perlu dilakukan secara rutin. Genangan air yang muncul setelah hujan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi salah satu penular demam berdarah dengue (DBD).

Dengan kondisi tersebut, fasilitas kesehatan juga perlu mengantisipasi kemungkinan meningkatnya penyakit yang berkaitan dengan perubahan musim, genangan, dan banjir.(arfi)

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar