JAKARTA RADAR GARUDA, (25/09). Influenza A merupakan salah satu kelompok virus pernapasan yang terus menjadi perhatian kesehatan global karena memiliki kemampuan beradaptasi dan menginfeksi berbagai jenis hewan, termasuk manusia.
Virus ini membawa materi genetik berupa RNA yang tersusun dalam delapan segmen. Pada permukaannya terdapat dua protein utama, yaitu hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA), yang berperan penting dalam proses infeksi dan penyebaran virus.
Protein HA membantu virus menempel pada sel saluran pernapasan dan memasuki sel tersebut. Setelah virus berkembang biak, protein NA membantu partikel virus baru keluar dari sel yang telah terinfeksi sehingga dapat menyebar ke sel lain.
Kombinasi protein HA dan NA kemudian digunakan untuk mengidentifikasi subtipe Influenza A, seperti H1N1, H3N2, hingga H5N1.
Gejala dan Risiko Influenza
Penularan influenza dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel yang mengandung virus. Setelah masuk ke saluran pernapasan, virus dapat memperbanyak diri di dalam sel.
Infeksi umumnya menimbulkan sejumlah gejala, antara lain demam, batuk, pilek, sakit kepala, nyeri otot, serta kelelahan.
Meski sering kali dapat sembuh, influenza juga berpotensi menyebabkan komplikasi serius. Risiko tersebut lebih besar pada kelompok rentan seperti lanjut usia, anak-anak, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit penyerta.
Pada kasus berat, infeksi influenza dapat berkembang menjadi pneumonia dan gangguan pernapasan. Kondisi tersebut juga dapat disertai infeksi bakteri sehingga komplikasi yang terjadi tidak selalu semata-mata akibat virus influenza.
Virus Influenza Terus Mengalami Perubahan
Kemampuan influenza untuk berubah menjadi salah satu faktor yang membuat virus ini terus diawasi.
Perubahan kecil yang berlangsung secara bertahap dikenal sebagai antigenic drift. Perubahan tersebut dapat membuat sistem kekebalan tubuh lebih sulit mengenali virus secara optimal.
Fenomena ini menjadi salah satu alasan vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala agar dapat menyesuaikan dengan virus yang sedang beredar.
Selain perubahan kecil, Influenza A juga dapat mengalami perubahan besar yang disebut antigenic shift.
Antigenic shift dapat terjadi ketika dua virus influenza berbeda menginfeksi satu inang secara bersamaan. Dalam kondisi tertentu, segmen materi genetik dari kedua virus dapat mengalami pertukaran dan menghasilkan virus dengan kombinasi sifat yang berbeda.
Babi kerap menjadi perhatian dalam kajian tersebut karena hewan ini memiliki reseptor yang memungkinkan terjadinya infeksi oleh beberapa jenis virus influenza.
Jika terjadi infeksi bersamaan, pertukaran materi genetik berpotensi menghasilkan virus baru yang belum banyak dikenali sistem kekebalan manusia.
Perubahan besar pada virus influenza pernah dikaitkan dengan munculnya pandemi pada 1957, 1968, dan 2009.
Mengapa Influenza A Lebih Kompleks?
Salah satu perbedaan penting antara Influenza A dan Influenza B terletak pada inangnya.
Influenza B terutama beredar pada manusia, sedangkan Influenza A dapat menginfeksi berbagai spesies, termasuk unggas dan babi.
Kemampuan menginfeksi banyak jenis hewan memberikan peluang lebih luas bagi Influenza A untuk mengalami perubahan dan menghasilkan varian atau kombinasi virus baru.
Karena itu, pemantauan influenza tidak hanya dilakukan terhadap pasien yang mengalami gejala pernapasan, tetapi juga terhadap virus yang beredar pada populasi hewan.
H5N1 Masih Menjadi Perhatian
Salah satu subtipe Influenza A yang mendapat perhatian luas adalah H5N1, yang dikenal sebagai flu burung.
Virus tersebut terutama ditemukan pada unggas. Namun, H5N1 juga diketahui dapat menginfeksi manusia dan sejumlah spesies mamalia.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 993 kasus infeksi H5N1 pada manusia dilaporkan sejak awal 2003 hingga 26 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, 477 orang meninggal dunia.
Indonesia juga memiliki riwayat kasus H5N1 pada manusia. Data WHO kawasan Pasifik Barat mencatat 200 kasus dengan 168 kematian di Indonesia sejak 2003 hingga akhir 2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa infeksi H5N1 pada manusia dapat menyebabkan dampak serius. Namun, keberadaan kasus pada manusia tidak secara otomatis menunjukkan bahwa virus tersebut telah menjadi pandemi.
WHO masih menilai risiko kesehatan masyarakat akibat Influenza A(H5N1) pada manusia berada pada tingkat rendah karena belum terdapat bukti mengenai penularan antarmanusia yang berkelanjutan.
Dengan kondisi tersebut, H5N1 tetap menjadi virus yang perlu dipantau, terutama karena masih ditemukan pada populasi hewan.
Pengawasan Perlu Dilakukan pada Manusia dan Hewan
Pengendalian influenza membutuhkan pemantauan yang dilakukan secara terpadu.
Pengawasan di fasilitas kesehatan dan laboratorium diperlukan untuk mengetahui kasus pada manusia serta karakteristik virus yang beredar. Pada saat yang sama, pemantauan terhadap unggas, babi, dan mamalia lainnya juga penting untuk mendeteksi perubahan virus sejak dini.
Pemantauan lintas sektor menjadi bagian penting dalam menghadapi kemungkinan munculnya virus influenza baru.
Dengan kemampuan Influenza A untuk mengalami perubahan genetik dan menginfeksi berbagai spesies, deteksi dini terhadap perubahan virus menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko terhadap kesehatan masyarakat.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar