Jakarta,Radar Garuda(10/10)-
Fenomena banyaknya lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas yang bekerja sebagai juru parkir (jukir) di jalanan dinilai menunjukkan masih adanya ketimpangan kesempatan kerja.
Sosiolog Universitas Sebelas Maret, Drajat Tri Kartono, dan sosiolog Universitas Gadjah Mada, AB Widyanta, menilai kelompok tersebut cenderung tersingkir dari sektor formal sehingga mencari penghasilan melalui pekerjaan informal.
Fenomena jukir di jalanan berbeda dengan petugas parkir di perusahaan atau pusat perbelanjaan yang umumnya memiliki proses seleksi dan standar kerja tertentu.
Menurut Drajat, sektor informal cenderung lebih terbuka karena tidak membutuhkan modal besar dan memiliki persyaratan kerja yang lebih longgar.
"Karena memang sektor informal itu tadi, tidak padat modal, dia padat karya, ya standar gaji, standar asuransi, standar segala macam itu tidak ada. Atau ada tapi ya relatif lah. Sehingga dia lebih terbuka pada semua orang," ujar Drajat.
Sementara itu, sosiolog UGM, AB Widyanta melihat persoalan jukir juga tidak lepas dari relasi sosial-ekonomi yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, pekerjaan tersebut bermula dari jasa penjagaan kendaraan secara informal ketika masyarakat mulai meninggalkan kendaraan di ruang publik.
(veve)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar