PALANGKA RAYA ,SAMPIT (9/10) - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan tak kunjung usai. Akibatnya, langit di sejumlah kota di Kalimantan Tengah menguning pekat dan diselimuti kabut asap tebal berbahaya.Fenomena langit menguning terjadi di Kota Palangka Raya, Sampit, Buntok, hingga Pangkalan Bun dalam sepekan terakhir. Pada siang hari, matahari tampak redup seperti bola merah, cahaya tidak tembus ke bumi.
"Perih ke mata, sesak napas. Semoga cepat padam aja harapannya," kata Siti Khodijah, warga Sampit, Jumat (26/9/2026).
BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit menjelaskan, langit menguning terjadi akibat pembiasan cahaya matahari oleh partikel asap yang sangat tebal."Itu pembiasan dari sinar matahari. Karena memang cahaya matahari tidak terpancar langsung ke bumi namun terbias kabut asap. Kabut asap sangat tebal bahkan awan tidak bisa kami amati," ujar Prakirawan BMKG Rahmat Wahidin Abdi.
KONDISI DARURAT:
1. Kualitas Udara Berbahaya: Di Palangka Raya, jarak pandang di bawah 100 meter, warga terpaksa menyalakan lampu motor di siang hari. Data DLH Kalsel per 6 Oktober 2026 mencatat ISPU Batola 390 dan Tabalong 343 kategori BERBAHAYA. ISPU Palangka Raya tembus level Berbahaya, picu lonjakan ISPA.
2. Sekolah Online 8 Kali: Dinas Pendidikan Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga 7 Oktober 2026. Ini perpanjangan kedelapan sejak awal September. PAUD, SD, SMP semua belajar dari rumah.
3. Penerbangan Batal: Di Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kamis (8/10/2026), 3 penerbangan Batik Air dan semua penerbangan NAM Air dibatalkan karena jarak pandang di bawah 1.500 meter. Rute Jakarta, Surabaya, Semarang lumpuh.
4. Asap Sampai ke Manado: BMKG menyebut asap kiriman (transboundary haze) dari Kalimantan bahkan terbawa angin hingga ke Manado, Sulawesi Utara.
BPBD mencatat lahan terbakar di Palangka Raya saja sudah mencapai 1.400 hektare dengan 817 kejadian. Di Barito Selatan, api di Desa Madara membara luar biasa hingga 115 personel Polres dikerahkan.Warga diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker, dan tidak membuka lahan dengan cara dibakar.
"Jangan membakar. Contohnya di Madara, api membesar dan tidak terkendali. Akibatnya merugikan semua pihak," tegas Kepala BPBD Barsel Agus In Yulius. (Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar