Kesehatan

Riset Pemindaian MRI: Defisiensi Zat Besi Ibu Hamil Hambat Pertumbuhan Area Vital Otak Janin.

  • Arfi
  • Kamis, 08 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Riset Pemindaian MRI: Defisiensi Zat Besi Ibu Hamil Hambat Pertumbuhan Area Vital Otak Janin.

CAPE TOWN — RADAR GARUDA, (8/10). Hasil studi klinis berskala internasional yang memanfaatkan teknologi neurosains mutakhir mengungkap dampak serius dari status gizi ibu terhadap arsitektur saraf anak. Menggunakan perangkat pemindaian pencitraan resonansi magnetik atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) portabel, tim peneliti menemukan bahwa kekurangan zat besi (anemia) pada masa kehamilan secara konsisten menghambat pertumbuhan volume area subkortikal vital di otak janin.

Penelitian komprehensif yang dirilis dalam laporan jurnal medis global tersebut merupakan hasil kolaborasi ilmiah antara dan University of Cape Town. Para ilmuwan melacak data kesehatan terhadap lebih dari 300 pasang ibu dan anak sejak masa kehamilan hingga anak menyentuh usia dua tahun untuk mengukur perkembangan neurologis secara jangka panjang.

Riset ini mengidentifikasi bahwa paparan anemia ringan sekalipun pada ibu hamil memicu penyusutan volume total otak bayi rata-rata 4 persen lebih kecil dibandingkan anak yang lahir dari ibu sehat. Penurunan volume ini terlokalisasi secara signifikan pada tiga wilayah subkortikal utama, yaitu putamen, nukleus kaudatus, dan korpus kalosum, yang mengontrol fungsi motorik, regulasi emosi, serta kecepatan memproses informasi visual dan spasial.

"Berdasarkan analisis pelacakan komparatif, kesenjangan ukuran struktur otak ini tidak mengecil seiring bertambahnya usia anak. Pada korpus kalosum, perbedaan volume tercatat sebesar 4 persen pada usia 12 bulan dan justru melebar hingga 6 persen saat anak menyentuh usia 24 bulan, yang membuktikan bahwa otak anak tidak sedang mengejar ketertinggalan pertumbuhan (catch-up growth)," tulis laporan tim peneliti.

Para ahli neurosains menjelaskan bahwa zat besi merupakan komponen mutlak dalam metabolisme energi selular serta pembentukan DNA pada jaringan saraf janin yang sedang berkembang pesat di trimester akhir. Jika pasokan oksigen yang diikat oleh hemoglobin ibu menurun, perkembangan struktur oligodendrosit yang berfungsi membangun selubung pelindung saraf (mijelinisasi) akan terganggu.

Guna meminimalkan risiko hambatan kognitif permanen saat anak memasuki usia sekolah, para pakar kesehatan masyarakat merekomendasikan tiga pilar intervensi klinis makro:

* Skrining Hemoglobin (Hb) Sejak Dini: Mewajibkan tes darah lengkap pada kunjungan pemeriksaan kehamilan pertama (antenatal care) guna mendeteksi gejala anemia tanpa menunggu   munculnya keluhan fisik.

* Terapi Suplementasi Zat Besi Bertarget: Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) dengan bioavailabilitas tinggi secara disiplin, atau opsi suntikan zat besi intravena bagi ibu   hamil yang mengalami gangguan penyerapan saluran cerna.

* Eradikasi Peradangan Kronis: Mengobati infeksi penyerta secara simultan karena kondisi peradangan tubuh dapat mengunci simpanan zat besi dan menghambat transfer nutrisi   melalui plasenta ke janin.

Melalui integrasi deteksi dini kadar hemoglobin dan intervensi nutrisi yang tepat sasaran, angka kejadian kekurangan gizi pada ibu hamil diharapkan dapat ditekan secara drastis demi menyelamatkan potensi kecerdasan serta kualitas hidup generasi penerus secara berkelanjutan di tingkat global.(arfi)
 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar