Teknologi

Geser Dominasi Barat, Arsitektur Afrika Kuno Masuk Nominasi Warisan Dunia UNESCO.

  • Arfi
  • Kamis, 08 Oktober 2026
  • menit membaca
  • 10x baca
Geser Dominasi Barat, Arsitektur Afrika Kuno Masuk Nominasi Warisan Dunia UNESCO.

ADDIS ABABA — RADAR GARUDA, (8/10). Sejarah arsitektur vertikal dunia kini tengah menghadapi reposisi besar-besaran. Menyusul pembuktian ilmiah terhadap kecanggihan rekayasa sipil prasejarah di Tanduk Afrika, kompleks situs purbakala [Grat Be'al Gibri](https://www.google.com/search?q=Grat+Be%27al+Gibri+Yeha+UNESCO+2026) di Yeha, Ethiopia utara, kini resmi dipercepat untuk masuk ke dalam daftar utama Situs Warisan Dunia UNESCO.

Langkah proteksi internasional ini diambil setelah tim arkeolog dan ahli teknik sipil asal Jerman merilis laporan mutakhir mereka dalam Jurnal Heritage. Melalui pemodelan digital terintegrasi, peradaban Afrika Timur terbukti telah menguasai formula matematika struktur bangunan bertingkat tinggi sejak tahun 800 Sebelum Masehi (SM), sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa konsep gedung tinggi merupakan monopoli arsitektur modern Barat.

Sebelum penemuan ini divalidasi, mencatat Home Insurance Building di Chicago (dibangun tahun 1884) sebagai pelopor struktur pencakar langit pertama di dunia. Namun, bukti fisik dari reruntuhan istana seluas 60x60 meter di Ethiopia ini menunjukkan bahwa rekayasa bangunan masif berlantai banyak telah lahir 2.700 tahun lebih awal di tanah Afrika .

"Penemuan ini memaksa dunia untuk menulis ulang buku sejarah tata kota global. Arsitek kuno di Yeha tidak lagi sekadar mendirikan monumen batu mati, melainkan telah merancang pusat pemerintahan vertikal yang fungsional dengan perhitungan beban mekanis yang sangat matang," ungkap perwakilan tim konservasi cagar budaya internasional dalam keterangannya, Kamis (8/10).

Berdasarkan dokumen pengajuan ke , keunikan universal yang menonjol dari arsitektur monumental ini bertumpu pada tiga pilar kecanggihan konstruksi:

* Teknologi Dinding Anyaman Elastis (Timber-Laced Masonry): Metode komposit yang menyisipkan balok kayu horizontal di antara susunan batu kasar, memberikan fleksibilitas   struktural yang sangat andal dalam meredam risiko pergeseran tanah maupun gempa.

* Kapasitas Beban Vertikal Ekstrem: Hasil uji simulasi komputer membuktikan bahwa kekuatan mekanis fondasi batu dasar tersebut dirancang mampu menahan tekanan beban   arsitektur bertingkat hingga 16 sampai 19 lantai.

* Sistem Isolasi Termal Alami: Ketebalan dinding yang masif dikombinasikan dengan sirkulasi udara vertikal, menciptakan sistem pendingin ruang alami yang adaptif terhadap   iklim ekstrem kawasan Laut Merah.

Kendati sebagian besar struktur atas bangunan telah hangus akibat bencana kebakaran besar pada zaman kuno dan hanya menyisakan pilar podium setinggi 10 meter, pengakuan dari dinilai mendesak. Status Warisan Dunia tidak hanya akan mengunci kucuran dana konservasi global untuk melindungi situs dari kerusakan struktural akibat cuaca, melainkan juga membuka koridor riset baru bagi para ilmuwan sipil modern untuk mempelajari ketahanan material purba dalam menghadapi tantangan perubahan iklim jangka panjang.(arfi)
 

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar