JAKARTA — RADAR GARUDA,. (7/10). Bertahannya harga minyak mentah acuan internasional di level psikologis [US$100 per barel] mulai memicu alarm kewaspadaan bagi stabilitas fiskal negara-negara berkembang net-importir minyak, termasuk Indonesia. Meskipun pergerakan harga global saat ini cenderung stabil, tingginya harga komoditas energi tersebut berisiko memperlebar defisit neraca perdagangan migas secara signifikan.
Pada penutupan perdagangan bursa komoditas berjangka London, minyak mentah Brent bertengger di posisi US$100,58 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) komparatif Amerika Serikat tertahan pada level US$89,44 per barel. Angka ini mencerminkan perimbangan pasar antara melimpahnya pasokan global dengan tingginya premi risiko geopolitik di jalur maritim kritis.
Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan total konsumsi energi dunia sepanjang tahun berjalan akan melandai ke angka 102,4 juta barel per hari. Penurunan ini dipicu oleh perlambatan aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang utama serta efisiensi penggunaan bahan bakar distilat industri.
Kendati konsumsi dunia melandai, stabilitas harga di level atas ini memaksa otoritas fiskal domestik untuk memperketat bauran kebijakan ekonomi kuartal IV guna meredam dampak tiga risiko ekonomi makro berikut:
* Tekanan Subsidi Energi: Tingginya harga impor minyak mentah di atas asumsi makro berpotensi menguras sisa pagu anggaran subsidi BBM dan LPG, yang dapat memicu pembengkakan defisit APBN.
* Impor Inflasi (Imported Inflation): Lonjakan ongkos angkut logistik perkapalan internasional akibat naiknya tarif asuransi maritim berisiko mengerek harga bahan baku manufaktur impor di tingkat konsumen dalam negeri.
* Volatilitas Nilai Tukar: Tingginya kebutuhan pasokan mata uang dolar AS oleh korporasi energi untuk membiayai impor minyak dapat menekan posisi cadangan devisa dan memicu pelemahan nilai tukar Rupiah.
Guna meredam guncangan fiskal tersebut, pemerintah bersama blok negara maju (G7) terus mendorong eksekusi pelepasan cadangan minyak darurat kolektif sebesar 100 million barrels. Di tingkat domestik, percepatan program mandatori biodiesel B50 berbasis kelapa sawit dalam negeri diintensifkan sebagai instrumen substitusi impor solar utama, guna menjaga kedaulatan devisa serta memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga secara berdaulat dari gejolak geopolitik dunia.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar