JAKARTA — RADAR GARUDA, (7/10). Di tengah pesatnya intervensi kecerdasan buatan (AI) dan dinamika pasar keuangan global, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi syarat mutlak bagi ketahanan korporasi. Menanggapi fenomena tersebut, Chief Executive Officer (CEO) Insurance Asia Pacific Sompo, mengungkapkan bahwa kesuksesan jangka panjang seorang profesional asuransi tidak lagi hanya ditentukan oleh latar belakang akademis, melainkan oleh kekuatan mentalitas individu untuk terus berkembang.
Berdasarkan laporan dari beberapa ceo-sompo-ungkap-keterampilan-penting bagi-profesional-
asuransi-apa-saja-, Reilly menggarisbawahi bahwa dorongan internal (inner drive) jauh lebih bernilai dibanding sekadar mengikuti program pelatihan instruksional formal dari perusahaan. Di era digital, pelaku industri asuransi dituntut untuk adaptif dalam membaca profil risiko baru seperti ancaman kejahatan siber (cyber claim) hingga asuransi parametrik perubahan iklim.
"Menurut saya, sifat yang paling penting adalah rasa ingin tahu (curiosity). Kita harus terus memiliki keinginan yang kuat dari dalam diri untuk meningkatkan kemampuan dan belajar hal-hal baru tanpa harus menunggu perintah," ujar Kenneth Reilly saat melakukan wawancara bersama media di Jakarta.
Selain faktor kecerdasan emosional dan kapasitas belajar mandiri tersebut, manajemen global mengidentifikasi empat fondasi keahlian dan prinsip kerja utama yang wajib dikuasai oleh para profesional asuransi modern:
* Sikap Saling Menghormati (Mutual Respect): Mengingat asuransi adalah bisnis global yang menyasar multi-pasar, profesional wajib memiliki keahlian komunikasi lintas budaya untuk memahami karakteristik operasional lokal yang unik di setiap negara.
* Integritas dan Kepatuhan Ketat: Menempatkan penegakan hukum dan batas kepatuhan regulasi di atas segalanya. Pemimpin asuransi dilarang keras mengambil jalan pintas (short cuts) demi mengejar keuntungan omzet jangka pendek.
* Pemberian Kewenangan Lokal (Empowerment): Fleksibilitas dalam mengambil keputusan taktis yang paling tepat dan adil bagi para pemegang polis setempat tanpa terhambat oleh birokrasi berlapis dari kantor pusat.
* Edukasi dan Mitigasi Risiko Bertanggung Jawab: Menguasai kemampuan literasi keuangan untuk mengedukasi masyarakat luas serta menghitung kalkulasi risiko secara akurat dan transparan.
Melalui integrasi antara rasa ingin tahu yang tinggi, pemanfaatan ekosistem teknologi digital, serta komitmen etika profesi yang kuat, para praktisi asuransi diharapkan mampu mentransformasi model bisnis konvensional menjadi layanan perlindungan modern yang tepercaya dan relevan bagi kebutuhan finansial masyarakat.(arfi)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar