JAKARTA (2/10) - Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya. Indeks Dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir, bikin mata uang dunia termasuk Rupiah kelimpungan!
Data perdagangan Kamis (2/10/2026) pagi, DXY - yang mengukur kekuatan Greenback terhadap 6 mata uang utama dunia - naik ke level 101,58 hingga 102,13. Ini merupakan level tertinggi sejak pertengahan Mei 2025 / 29 Juli 2025.
*Apa Penyebabnya?*
1. Ekonomi AS Terlalu Panas: Data PMI Komposit AS melonjak ke 58,4 (tertinggi sejak Juli 2021), pesanan baru meledak.
2. The Fed Hawkish: Gubernur The Fed Michael Barr dan Ketua baru Kevin Warsh memberi sinyal kenaikan suku bunga lanjutan untuk tekan inflasi yang masih di 5,25%. Peluang kenaikan bunga di Desember tembus 86%!
3. Yield Treasury Meroket: Imbal hasil obligasi AS 10 tahun tembus 5,106% - 5,34%, tertinggi sejak 2007 dan 2002! Investor global ramai-ramai borong Dolar.
"Yang mendorong kenaikan dolar adalah dampak lanjutan dari langkah hawkish The Fed pekan lalu, yang memberikan momentum baru bagi dolar," ujar Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman, London.
Dampak ke Indonesia:
Rupiah langsung kena getah. Pada perdagangan Kamis (24/9) lalu, Rupiah di pasar spot melemah 0,55% ke Rp 17.916 per Dolar AS, sementara JISDOR Bank Indonesia di Rp 17.898. Pengamat memprediksi Rupiah bisa mendekati Rp 18.000 jika DXY terus menguat.
Tak hanya Rupiah, harga emas dunia rontok 1,94% ke US$ 4.110 per troy ons karena Dolar yang super kuat bikin emas jadi mahal.
Bank Indonesia masih menahan suku bunga acuan di 5,75% untuk menjaga stabilitas. (Bll)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar